Mandiri News Detail Portlet

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

ECONOMIC REVIEW

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW
Office of Chief Economist, PT Bank Mandiri
October, 15, 2026 | Daily Economic Review: Ketidakpastian Geopolitik Membayangi Pasar Keuangan Global

Pasar keuangan global masih bergerak volatil seiring berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Risiko gangguan pasokan dan pelayaran di Selat Hormuz menjaga harga minyak tetap tinggi, dengan Brent berada di sekitar USD106,5 per barel pada perdagangan 14 Oktober 2026. Bagi investor, persoalannya bukan hanya perkembangan konflik, tetapi juga seberapa lama harga energi akan bertahan tinggi dan dampaknya terhadap inflasi serta pertumbuhan ekonomi ke depan.

Harga energi yang tinggi menambah ketidakpastian arah suku bunga global dan pergerakan pasar obligasi.
Kenaikan biaya energi dapat mendorong harga barang dan jasa, sehingga menyulitkan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan. Di pasar obligasi, kekhawatiran terhadap konflik mendorong pembelian aset aman, tetapi risiko inflasi membatasi penurunan pada suku bunga. Pada 14 Oktober 2026, suku bunga UST tenor 10 tahun turun tipis ke sekitar 5,20%, sementara indeks USD (DXY) bertahan di sekitar 102,17.

Indonesia menghadapi tekanan dari meningkatnya kebutuhan USD dan sikap investor global yang semakin selektif.
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan nilai impor energi dan kebutuhan devisa, sementara manfaat kenaikan harga komoditas ekspor belum tentu cukup untuk mengimbangi. Dari sisi fiskal, biaya subsidi dan kompensasi energi juga dapat meningkat apabila pemerintah mempertahankan harga domestik. Di pasar keuangan, tingginya suku bunga aset USD membuat investor asing lebih mempertimbangkan risiko nilai tukar sebelum masuk ke SBN maupun saham.

Our View: Pemulihan pasar keuangan Indonesia masih membutuhkan rupiah yang lebih stabil dan tekanan global yang mereda.
Selama harga minyak tetap tinggi dan arah suku bunga AS belum pasti, aliran modal asing berpotensi bergerak tidak stabil. Penurunan suku bunga UST perlu dicermati bersama dengan pergerakan USD, karena belum tentu langsung diikuti oleh kembali masuknya aliran dana ke pasar Indonesia. Untuk SBN, pendapatan kupon masih menjadi pertimbangan utama, dengan tenor pendek hingga menengah relatif lebih terjaga terhadap perubahan suku bunga. Penambahan investasi pada tenor panjang dapat dilakukan bertahap ketika tekanan nilai tukar berkurang dan permintaan pasar menguat. Sementara itu, perusahaan dengan kewajiban valas USD perlu menyesuaikan kebutuhan lindung nilai sesuai dengan jadwal pembayaran. Meredanya konflik dan turunnya harga energi akan membantu pemulihan pasar, sedangkan eskalasi berkepanjangan dapat menambah tekanan pada rupiah, biaya pembiayaan, dan anggaran pemerintah. (rep)

Untuk informasi yang lebih lengkap, Report tersebut dapat Bapak/Ibu unduh pada website kami melalui link berikut ini:
 

Unduh Dokumen Media