Mandiri News Detail Portlet

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

ECONOMIC REVIEW

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW
Office of Chief Economist, PT Bank Mandiri
May, 21, 2026 | Daily Economic Review: BI Rate Naik 50 bps Menjadi 5,25% Untuk Menjaga Stabilitas Rupiah

BI prioritaskan stabilitas rupiah lewat kenaikan suku bunga.
Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada RDG Mei-26, menandai kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir di tengah tekanan yang semakin besar terhadap nilai tukar Rupiah dan meningkatnya risiko imported inflation. Kebijakan ini mencerminkan pergeseran fokus BI yang semakin menitikberatkan pada stabilitas pasar keuangan dan stabilitas eksternal, terutama setelah Rupiah sempat melemah mendekati Rp17.700/USD.

Geopolitik global dan stance higher-for-longer menekan Emerging Markets.
Tekanan eksternal menjadi salah satu faktor di balik perubahan kebijakan BI. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran telah meningkatkan risiko gangguan rantai pasok global, mendorong kenaikan harga komoditas dan memperbesar tekanan inflasi dunia. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 melambat ke sekitar 3,0%, sementara inflasi global berpotensi meningkat ke 4,3%, sehingga mendorong suku bunga global bertahan lebih tinggi lebih lama (higher-for-longer).

BI memperkuat ketahanan eksternal dan likuiditas perbankan.
Di tengah tekanan global tersebut, BI memperkuat strategi stabilisasi eksternal sekaligus menjaga ketahanan sektor keuangan domestik. BI meningkatkan daya tarik instrumen SRBI melalui kenaikan rate yang lebih agresif, memperluas instrumen pasar valas, serta memperkuat transaksi mata uang lokal termasuk CNH-Rupiah untuk menarik aliran modal asing. Hingga 18 Mei-26, arus masuk portofolio asing tercatat mencapai USD5,5 miliar, terutama ke SRBI dan SBN.

Ke depan, Bank Indonesia diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan yang cenderung pro-stability selama volatilitas global, harga minyak, yield US Treasury, dan penguatan USD masih berada pada level tinggi.
Fokus utama BI dalam jangka pendek kemungkinan tetap pada menjaga stabilitas Rupiah, mengendalikan imported inflation, serta mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik agar aliran modal asing tetap terjaga. Meski fundamental domestik dan sektor perbankan masih relatif solid, ruang pelonggaran kebijakan moneter diperkirakan masih terbatas dalam waktu dekat. Namun demikian, apabila tensi geopolitik global mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk, maka BI berpotensi mengadopsi kebijakan yang lebih seimbang antara stabilitas dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026. (rep)

Untuk informasi yang lebih lengkap, Report tersebut dapat Bapak/Ibu unduh pada website kami melalui link berikut ini:

Download Document Media