Press Release Detail Portlet

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

Thursday, 04 September 2025

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW
Office of Chief Economist, PT Bank Mandiri
September, 04, 2025 | Daily Economic Review: Skema Burden Sharing sebagai Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter

Burden sharing merupakan skema koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk memastikan pembiayaan APBN tetap terjaga.
Kebijakan ini ditempuh untuk menekan biaya bunga sehingga ruang fiskal pemerintah dapat digunakan untuk program prioritas seperti kesehatan, perlindungan sosial, perumahan, dan dukungan UMKM. Skema ini juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, khususnya pasar SBN, dengan memastikan likuiditas tetap terjaga.

Penerapan skema burden sharing pertama kali dimulai pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19.
Pada periode ini terjadi lonjakan belanja kesehatan, perlindungan sosial, dan pemulihan ekonomi yang membuat defisit APBN melebar sehingga pembiayaan APBN harus diperkuat. Melalui SKB (Surat Keputusan Bersama) I pada April 2020, BI diberi kewenangan menjadi standby buyer SBN di pasar perdana. Skema diperluas melalui SKB II pada Juli 2020, di mana BI membeli langsung IDR397,56 triliun SBN kategori public goods dengan bunga ditanggung penuh oleh BI (0% bagi APBN) dan berbagi bunga untuk pembiayaan UMKM yang sebesar IDR123,46 triliun.

Skema burden sharing 2025 diterapkan untuk pembiayaan program prioritas.
Memasuki 2025, langkah burden sharing kembali dilakukan untuk menjaga kesinambungan fiskal pascapandemi, ketika APBN menghadapi beban besar dari jatuh tempo utang burden sharing periode 2025-2030 sekaligus tuntutan pembiayaan program prioritas. Dengan menggunakan rumus (yield SBN 10 tahun – bunga deposito pemerintah) ÷ 2, beban bunga efektif untuk program seperti perumahan subsidi (2,9%) dan koperasi desa (2,15%) dapat ditekan, sehingga APBN lebih efisien, risiko fiskal terkendali, dan pasar obligasi tetap stabil serta kredibel.

Skema burden sharing terbaru dan profil jatuh tempo SBN memberi peluang sekaligus tantangan bagi pasar.
Tim riset ekonomi Bank Mandiri melihat bahwa skema 2025 dapat menekan biaya bunga APBN dan memberi ruang untuk belanja produktif, sehingga BI tetap bisa menstabilkan pasar lewat pembelian sekunder dan debt switch. Formula berbasis pasar diharapkan menjaga kepercayaan investor domestik maupun global. Namun, konsentrasi SBN jatuh tempo pada 2027-2028 yang mencapai lebih dari IDR210 triliun per tahun berpotensi menimbulkan tekanan refinancing dan mendorong kenaikan yield jika investor menuntut risk premium lebih tinggi. Di sisi lain, prospek penurunan suku bunga acuan dapat menahan tren kenaikan yield obligasi sehingga memberi peluang positif bagi pasar SBN ke depan. (rep)

Untuk informasi yang lebih lengkap, Report tersebut dapat Bapak/Ibu unduh pada website kami melalui link berikut ini: