Press Release Detail Portlet

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

Tuesday, 26 August 2025

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW
Office of Chief Economist, PT Bank Mandiri
Agustus, 26, 2025 | Daily Economic Review: Industri Manufaktur Lebih Resilien di Awal 3Q25

Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli 2025 tercatat sebesar 49,2.
Meskipun masih dalam fase kontraksi, PMI manufaktur mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya (46,9), atau meningkat 2,3 poin. Tingkat penurunan produksi dilaporkan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Sejalan dengan itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga tercatat meningkat menjadi 52,89 pada Juli 2025 (vs 51,84 pada Juni 2025). Peningkatan IKI ditopang oleh tiga variabel utama, antara lain Indeks pesanan naik ke 54,40 (+0,19 poin), persediaan produk meningkat signifikan ke 54,99 (+1,29 poin), dan indeks produksi naik ke 48,99 (+2,35 poin), meskipun masih berada dalam zona kontraksi.

Kenaikan pesanan mencerminkan meningkatnya permintaan dari pasar.
Resiliensi permintaan domestik didukung oleh momentum liburan sekolah dan masuknya tahun ajaran baru. Namun, masih terbatasnya aktivitas produksi menunjukkan sikap hati-hati pelaku industri dalam meningkatkan kapasitas di tengah ketidakpastian global.

Perbaikan kondisi manufaktur juga tercermin pada pasar tenaga kerja.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada Juli 2025 sebanyak 1.118 orang (vs 1.609 orang pada Juni 2025) atau turun 30,5% mtm. Perbaikan tren PHK ini didorong terutama dari provinsi Jawa Barat (turun 29,3% mtm) dan Jawa Tengah (66,2% mtm) sebagai representasi provinsi dengan basis industri manufaktur. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa sektor manufaktur mulai lebih stabil dalam menyerap tenaga kerja.

Ke depan, industri manufaktur nasional masih memiliki peluang untuk meningkatkan kinerja ekspor.
Kesepakatan tarif antara Indonesia dan AS serta kemajuan perundingan perjanjian dagang dengan Uni Eropa (I-EU CEPA) berpotensi meningkatkan daya saing industri manufaktur. Lebih lanjut, Indonesia juga memiliki peluang untuk meningkatkan ekspornya ke AS dengan memanfaatkan peluang dari negara-negara yang menghadapi tarif lebih tinggi. Dengan peluang tersebut, sektor manufaktur diharapkan terus pulih, menjadi motor penggerak ekonomi, sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja. (yrp)

Untuk informasi yang lebih lengkap, Report tersebut dapat Bapak/Ibu unduh pada website kami melalui link berikut ini: