news-detail
Mandiri News Detail Portlet
DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW
ECONOMIC REVIEW
DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW
Office of Chief Economist, PT Bank Mandiri
Desember, 27, 2024 | Daily Economic Review: Tiongkok Perkuat Stimulus Untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Tiongkok menetapkan kebijakan defisit anggaran yang lebih longgar.
Pemerintah Tiongkok meningkatkan batas defisit anggaran menjadi 4% terhadap PDB pada 2025, naik dari 3% pada 2024, untuk memberikan dukungan fiskal tambahan terhadap perekonomian Tiongkok. Dukungan fiskal untuk mendorong konsumsi di Tiongkok pada 2025 dilakukan dengan menaikkan pensiun dan subsidi asuransi kesehatan, serta memperluas program tukar-tambah barang konsumsi termasuk mobil, peralatan rumah tangga, dan perabot rumah.
Penerbitan obligasi untuk mendukung proyek strategis pemerintah.
Tiongkok berencana menerbitkan obligasi khusus senilai 3 triliun yuan atau sekitar 411 miliar Dolar AS pada 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan penerbitan obligasi pada 2024 yang sebesar 1 triliun yuan dan akan menjadi yang tertinggi dalam sejarah penerbitan obligasi di Tiongkok. Kebijakan tersebut merupakan upaya Tiongkok untuk mengatasi perlambatan ekonomi dengan memberikan stimulus fiskal.
Prospek pemulihan ekonomi Tiongkok yang lambat.
International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi Tiongkok pada 2025 akan tumbuh sebesar 4,5% yoy, lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2024 yang sebesar 4,8% yoy. Tiongkok menghadapi tantangan yang signifikan dari sisi internal, termasuk pemulihan yang lambat dari krisis properti, meningkatnya beban utang, serta melemahnya permintaan domestik. Sementara itu dari sisi eksternal, potensi meningkatnya ketegangan perdagangan dengan AS juga turut memberikan tekanan pada industri manufaktur di Tiongkok.
Perlambatan ekonomi Tiongkok memberikan dampak negatif bagi Indonesia.
Tim Riset Bank Mandiri memperkirakan ekonomi Tiongkok kemungkinan akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk pulih di tengah berbagai tantangan dari internal maupun eksternal yang meningkat dalam jangka pendek. Bagi Indonesia, pemulihan yang lambat pada ekonomi Tiongkok akan melemahkan prospek permintaan komoditas dari Indonesia, mengingat Tiongkok saat ini masih menjadi pasar ekspor terbesar bagi Indonesia. Selain itu, beberapa upaya yang kemungkinan dilakukan oleh Tiongkok, seperti kebijakan mendevaluasi Yuan untuk mempertahankan daya saing ekspor di tengah kebijakan tarif yang lebih tinggi dari AS, juga berpotensi melemahkan rupiah ke depan. (as)
Untuk informasi yang lebih lengkap, Report tersebut dapat Bapak/Ibu unduh pada website kami melalui link berikut ini: