Mandiri News Detail Portlet

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

ECONOMIC REVIEW

DAILY ECONOMIC AND MARKET REVIEW

Office of Chief Economist, PT Bank Mandiri

Desember, 31, 2024 | Daily Economic Review: Penjualan Alat Berat Indonesia Diperkirakan Meningkat Tipis Pada 2025

 

Secara kumulatif, penjualan alat berat menurun pada Januari hingga November 2024. 
Berdasarkan data dari United Tractors (UT), penjualan alat berat di Indonesia pada 11M24 mengalami kontraksi sebesar -8,52% yoy. Penjualan domestik pada 11M24 tercatat sebanyak 15.433 unit, menurun dari 16.870 unit pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, pada November 2024 penjualan alat berat menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan sebesar 21,3% yoy, melanjutkan tren positif yang telah terlihat sejak September 2024. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pelaku bisnis dalam menghadapi potensi peningkatan permintaan pada tahun 2025.

Penjualan ke sektor pertambangan tetap menjadi penopang utama. 
Sektor pertambangan menjadi kontributor terbesar penjualan UT dengan menyumbang 65,7% dari total penjualan 11M24. Meski proporsinya telah menurun dari rekor tertinggi lima tahun terakhir sebesar 72% pada Maret 2024, sektor ini tetap menjadi pendorong utama kinerja UT. Sementara itu, sektor konstruksi, pertanian, dan kehutanan masing-masing menyumbang 14,8%, 11,4%, dan 8,0%. Kami memperkirakan total penjualan UT pada tahun 2024 mencapai 4.546 unit, menurun dari 5.270 unit pada 2023, namun sedikit melebihi target UT sebesar 4.500 unit.

Office of Chief Economist Group Bank Mandiri memperkirakan penjualan alat berat nasional akan meningkat tipis sebesar 1,2% yoy pada tahun 2025. 
Ke depan, penjualan alat berat di tahun 2025 diproyeksikan akan tumbuh sebesar 1,2% yoy, dengan total penjualan mencapai sekitar 17.038 unit. Pertumbuhan ini didukung oleh beberapa faktor, termasuk target peningkatan produksi di sektor komoditas dan inisiatif pemerintah untuk mempercepat proyek strategis nasional. Salah satu program yang menjadi sorotan adalah rencana pembangunan tiga juta rumah setiap tahun hingga 2029, yang memberikan prospek positif terhadap permintaan alat berat di sektor konstruksi. Namun demikian, beberapa tantangan dapat menghambat pertumbuhan pada 2025. Depresiasi nilai tukar rupiah dapat meningkatkan biaya impor alat berat, sementara kenaikan PPN menjadi 12% dan penerapan pajak alat berat maksimum sebesar 0,2% dapat menambah beban biaya bagi pembeli. (azdk)

Untuk informasi yang lebih lengkap, Report tersebut dapat Bapak/Ibu unduh pada website kami melalui link berikut ini:

Download Document Media