KALANGAN PERBANKAN BENTUK ASOSIASI PENGELOLA RISIKO BANK

News Release - Jum'at, 29 Agustus, 2008

Jakarta, 29 Agustus 2008 ; Hari ini Banker Association for Risk Management (BARa) atau Asosiasi Pengelola Risiko Bank diluncurkan. Secara struktural organisasi BARa akan menjadi bagian dari Ikatan Bankir Indonesia (IBI). Seperti halnya Ikatan Auditor Intern Bank (IAIB), Certified Wealth Manager Association (CWMA) dan Association Cambiste Internationale (ACI) Indonesia Forexindo.

Dalam peluncuran tersebut, logo BARa diperkenalkan pada masyarakat perbankan dan sekaligus dibentuk pengurus organisasi BARa meliputi Dewan Kehormatan, Dewan Pakar serta Dewan Eksekutif dengan ketua Sentot A. Sentausa.

Wadah tersebut akan menjadi sarana komunikasi dan ajang kerjasama para bankir dalam penerapan konsep manajemen risiko secara efektif, khususnya para bankir yang bertugas dan bertanggungjawab atas penerapan manajemen risiko di masing-masing bank.

Ada beberapa faktor kunci untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan manajemen risiko di perbankan Indonesia, diantaranya ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas serta pola kerjasama yang erat antar bankir dalam menerapkan manajemen risiko melalui komunikasi. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah kerjasama kelembagaan antar bank yang efektif serta terjaganya komunikasi yang baik antara perbankan dengan regulator yaitu Bank Indonesia.

Dikatakan oleh Sentot, azas organisasi BARa akan dijaga untuk menjadi lembaga nirlaba, non-politis dan selalu berorientasi pada kepentingan dunia perbankan di Indonesia khususnya di bidang penerapan manajemen risiko. Berdasarkan keinginan perbankan tersebut, maka pada bulan Juli 2008 para bankir sepakat untuk membentuk asosiasi pengelola risiko bank yaitu Banker Association for Risk Management (BARa) atau Asosiasi Pengelola Risiko Bank.

“Diharapkan organisasi ini akan segera dirasakan manfaatnya baik bagi para banker maupun industri perbankan secara umum, dan dapat berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi perbankan di Indonesia dalam memberikan masukan kepada regulator. Prioritas pertama yang harus segera disiapkan BARa, adalah menyusun sistim sertifikasi manajemen risiko perbankan bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan (LSPP).” lanjut Sentot.

Secara umum, aktivitas utama BARa akan difokuskan pada upaya pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan, kegiatan konsultasi, baik melalui forum teknis maupun melalui workshop/ lokakarya. Secara rutin akan dikembangkan forum sharing penerapan konsep manajemen risiko, termasuk pengembangan sistim database Risk Management di antara perbankan.

Penerapan manajemen risiko di perbankan Indonesia masih merupakan tantangan tersendiri, untuk dapat menciptakan industri perbankan yang sehat namun tetap dapat menjaga daya saingnya. Hal ini juga sejalan dengan rencana penerapan Arsitektur Perbankan Indonesia yang sudah diluncurkan tanggal 9 Januari 2004. Khusus pemenuhan modal minimum bank umum sebesar Rp 100 milyar, akan diterapkan pada tahun 2010. Tantangan lainnya adalah Implementasi Basel II yang direncanakan mulai diterapkan di Indonesia pada tahun 2009 secara bertahap, diharapkan dapat menjadikan perbankan di Indonesia mengacu pada best practices penerapan manajemen risiko saat ini.

Keterangan lebih lanjut :
Pardi Sudradjat
Wakil Ketua Panitia Pembentukan BARa
Telp. 021 – 3002 3364
Fax. 021 – 526 8220

Sunset