Bank Mandiri di Dili

Bank Mandiri In The News - Rabu, 30 Oktober, 2002

BERSAING DENGAN BANK MOMOK : Mandiri ancang-ancang membuka bank di Dili. Pelayanan nasabah sangat buruk. Banyak Peluang?

Kehidupan ekonomi belum sepenuhnya pulih di Dili, Timor Leste. Tapi, Bank Mandiri mencoba menangkap peluang yang muncul dari bekas provinsi ke-27 Indonesia. Jurus yang mau ditempuh, Mandiri menyiapkan sayapnya dengan mendirikan kantor cabang. Sejak dua pekan lalu, juragan duit pelat merah itu mengirimkan tim kecil ke tanah Loro Sae. Satuan pimpinan Hudi Sapriyono, eksekutif Lembaga Keuangan dan Jaringan Luar Negeri Bank Mandiri, itu mengemban misi penting: mendirikan cabang di Dili.

"Mereka sudah dua kali ke sana,"kata Simon Nay, Manajer Bank Mandiri Cabang Kupang. Bahkan kata Simon,"pasukan pembuka jalan" itu diterima baik Presiden Timor Timur Xanana Gusmao dan pejabat penting lainnya. Hasilnya? "Presiden Xanana mendesak Mandiri segera buka cabang,"kata Simon.

Selanjutnya dapat ditebak, Bank Mandiri bakal bertambah sibuk. Misalnya, menentukan lokasi bakal bank. Rencananya, Mandiri cabang Dili bermarkas di bekas gedung Bank Dagang Negara (BDN). Lokasinya cukup strategis, di Jalan Bispo Maderio Nomor 3, di pusat kota Dili.

Gedung itu hangus menjadi abu, September 1999, menjadi korban huru- hara pemisahan Timor Timur dari Indonesia pasca jajak pendapat. "Kini sedang direhab," kata Simon. Jika semuanya mulus, cabang Dili beroperasi sebelum akhir tahun ini.

Kabar Mandiri bakal buka cabang sudah tersebar luas di Dili. "Kami sangat senang," kata Antonio de Freres, 43 tahun. Any, demikian panggilan akrabnya, berharap Mandiri dapat mengatasi problem transfer uang selama ini. Any sering mengirim duit ke Indonesia untuk familinya yang tengah menuntut ilmu. Selama ini, Any sering menggunakan jasa Banco Nacional Ultramarino (BNU), bank milik Pemerintah Portugis.

Any mengeluh karena duit kirimannya baru sampai dua pekan kemudian. "Saya tak tahu kenapa begitu lama,"kata Any. Diduga, lamanya pengiriman ini karena Banco Ultra Marino tak punya jalur korespondensi langsung dengan perbankan di Indonesia. Duit yang dikirim dari Dili harus terbang dulu ke Makao (Cina), setelah itu baru ditransfer ke Jakarta melalui bank penghubung.

Setelah merdeka, di Dili baru hadir dua bank, yakni BNU serta Bank ANZ, bentukan konsorsium Australia dan Selandia Baru. Tentu saja, peluang bisnis bagi Mandiri masih terbuka luas. Apalagi Mandiri hanya menghadapi dua pesaing tadi.

Lagi pula, tampaknya keduanya tak memperhatikan rumus "pelanggan adalah raja". Buktinya, dengar saja keluhan Nyonya Paula Soares, 53 tahun. Warga Dili Barat ini setiap bulan harus membayar calo US$5 jika ingin mengirim duitnya kepada tiga anaknya yang bersekolah di Surabaya dan Yogyakarta.

Penyebabnya sepele, Paula tak dapat mengisi blanko transfer yang harus ditulis dalam bahasa Inggris atau Portugal. Petugas BNU dan ANZ, yang umumnya bule, selalu menolak jika Paula minta bantuan menulis formulir transfernya. "Mereka itu sombong,"kata Paula. Maka, Paula terpaksa memanfaatkan jasa "broker" untuk mengirim duitnya. "Jasa transfernya saja US$40. Mahal, "katanya. Karena itu, kehadiran Mandiri sangat diharapkan.

Importir minuman, Yakobus Minsen, 48 tahun, juga bersemangat. Pengusaha Indonesia yang membuka bisnisnya di kawasan Bairopite, Dili Barat, ini sudah lama berharap kesulitannya berakhir. "Selama ini yang menjadi momok adalah soal bank saja,"katanya.

Usaha Yakobus pernah dibikin amburadul gara-gara kelambanan bank. Juli lalu, ia memesan barang dari Surabaya senilai Rp 400 juta. Duit itu ia transfer melalui BNU Dili. Apa lacur, relasi bisnisnya baru menerima pembayaran 18 hari kemudian. Padahal ketika itu, harga barang yang dipesan rupanya sudah naik. "Saya harus menambah Rp 42 juta lagi,"katanya. Yakobus terpaksa membatalkan sebagian pesannya.

Berbagai keluhan pelanggan ini dibenarkan Manuel Carascalao, ketua Asosiasi Comercial Agricola Industriale de Timor Leste (ACAIDA)--semacam Kadin. Bank di Dili, katanya, sejauh ini hanya mau melayani pelanggan gede. "Rakyat kecil yang mau menabung US$ 100 ditolak,"kata manuel, yang di masa lalu pernah menjadi Ketua DPRD Timor Timur.

Berbagai kondisi ini membuat Mandiri merasa mantap melangkah di Dili. "Suhu politik sudah mendingin. Tiba waktunya berbisnis," kata Koen Sardjono Sadrie, Corporate Secretary Mandiri. Ia yakin, cabang barunya akan sukses. "Apalagi kita masih punya ikatan kultural dan sejarah dengan Timor Timur,"kata Koen.

Paula, yang menanti kehadiran Mandiri, berharap, bank dari Jakarta itu tak bersikap sombong seperti dua bank asing lainnya yang sudah hadir di Dili.

Sunset